Senin, 26 Desember 2016

Dakwah Persuasif dalam Perspektif al-Quran

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di era globalisasi ini, pelaksanaan dalam dakwah tidaklah hanya melalui proses penyampain diatas mimbar saja, dan melalukan perjalan seperti halnya yang telah Rasulullah laksanakan, melainkan dengan hanya memanfaatkan kecanggihan teknologi kita dapat melaksanakan dakwah secara efektif dan efesien.
Pada hakikatnya dakwah adalah upaya mengajak manusia untuk bersedia mengenal Allah secara baik dan benar artinya tidak hanya terbatas pada mengetahui Allah dan Rasul- Nya semata, lebih jauh lagi mampu menghayati dan menghadirkan Allah dalam segala aktivitas yang kita kerjakan sehingga kita mendapat kebahagian di dunia dan akhirat kelak.
Dakwah persuasif adalah upaya yang bersifat membujuk secara halus supaya menjadi yakin dalam hal yang hendak disampaikan oleh para da’i tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dakwah dan tujuannya ?
2.      Apa pengertian dakwah persuasif ?
3.      Dakwah persuasif dalam perspektif al-Quran.










BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Pengertian  dan Tujuan Dakwah
Dakwah berasal dari kata da’a yang berarti memanggil, mengundang, menyeru, ajakan dan himbauan. Selain kata dakwah ditemukan beberapa kata yang memiliki makna yang sama atau hampir sama dengan dakwah, diantaranya adalah tabligh, nasihat, tarbiyah, tabsyir dan tandzir.
Dari berbagai definisi yang diberikan para pakar dakwah, ditemukan keragaman dalam pendefinisian dakwah. Dakwah adalah usaha mempengaruhi orang lain agar bersikap dan bertingkah laku seperti apa yang didakwahkan oleh da’i. Dengan demikian dakwah Islam adalah upaya mempengaruhi orang lain agar bersikap dan bertingkah laku secara islami. Ilmu dakwah adalah mengajak manusia dengan bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah, untuk kemaslahatan dan kebahagian mereka didunia dan di akhirat.
Dakwah sebagai ajakan akan membuat menusia tertarik kepada ajakan kita jika tujuannya menarik. Oleh karena itu, da;i harus bisa merumuskan tujuan kemana masyarakat akan diajak. Ada dua tujuan, yaitu tujuan makro dan tujuan mikro. Tujuan makro cukup jelas, yaitu mengajak manusiakepada kebahagian dunia akhirat. Da’i dan mubaligh pada umumnya tidak pandai dalam merumuskan tujuan mikro, tujuan jangka pendek yang mudah terjangkau, yang menarik hati masyarakat.[1]
Dilihat dari segi perbuatan maka tujuan dakwah tersebut dapat dibagi menjadi, yaitu menunaikan amanat, menegakkan hujjah dan dalil-dalil kebenaran dan selanjutnya menyelamatkan umat dari kehancuran.

a.      Prinsip Dakwah
Dalam melaksanakan dakwah di Mekkah dan Madinah, nabi Muhammad memiliki beberapa prinsip yang senantiasa dilakukannya. Prinsip-prinsip dakwah tersebut sangat membantu dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas kerasulan yang di emban. Pada dasarnya prinsip dakwah sangat bergantung pada situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapinya.
Rasululah tahu kapan dia harus belaku tegas, keras dan bersikap lemah lembut, sehingga setiap keputusan terbaik dan menyenangkan semua pihak. Disaat-saat tertentu ia tegas, tetapi disaat yang lain dia fleksibel. Semua itu merupakan suatu bentuk sikap yang mendukung setiap aktivitas dakwah di kedua tempat tersebut. Adapun prinsip-prinsip dakwah Rasul :
·         Bertahap
Yang dimaksud bertahap adalah bahwa dalam mengembangkan ajaran Islam tidak dilakukan sekaligus, namun secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, disesuaikan dengan keadaan masyarakat atau individu yang dihadapi.
·         Tidak Memberatkan
Prinsip ini memiliki hubungan dengan prinsip yang pertama. Salah satu konsekuwensi logisnya adalah Islam menginginkan adanya kemudahan bagi pemeluk-pemeluknya. Islam tidak menghendaki kesulitan bagi orang yang menjadikannya sebagai tuntunan kehidupan, sebagaimana anjuran Rasulullah kepada para da’i agar emberikan kemudahan kepada manusia yang dihadapi.
·         Fleksibel
Prinsip ini menggambarkan bahwa Islam memiliki keluwesan dan kelenturan, tidak kaku dan mengikat kebebasan manusia dalam berpikir, berkarya dan menciptakan. Hal ini juga mengindikasikan bahwa Islam mendorong pemeluknya agar berkarya, beraktivitas untuk mengembangkan segenap potensi yang ada pada dirinya.
·         Absolut
Berbeda dengan prinsip fleksibel, prinsip ini lebih menekanka kemutlakan Islam terhadap pemeluknya, tidak ada alasan untuk menolak atau menerima sebagiannya saja. Tiap pribadi yang mengaku Islam harus tunduk dan patuh pada setiap ketetapan yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Pada tataran ini dakwah harus diterima oleh setiap manusia kapan dan dimana saja ia berada.[2]

b.      Metode Dakwah
Metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang  da’i ( komunikator ) kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang. Hal ini mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan human oriented menempatkan penghargaan yang mulia atas dirinya manusia.
           
  
Artinya :” serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. ( an-Nahl : 125 )
Dari ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa metode dakwah itu meliputi tiga cakupan, yaitu :
·         Al- Hikmah
Al- Hikmah merupakan kemampuan dan ketetapan da’i dalam memilih dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi obyektif mad’u. Al – Hikmah merupakan kemampuan da’i dalam menjelaskan doktrin-doktrin Islam serta realitas yanga ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu, al-Hikmah sebagai sebuah sistem yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam berdakwah.
·         Al- Mau’idza Al-Hasanah
Mau’idzatul Hasanah mengandung arti kata-kata yang masuk ke dalam Qalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan, tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasehati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan qalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan dari pada larangan dan ancaman.
·         Al- Mujadalah Bi-al-Lati Hiya Ahsan
Al-Mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Antara satu dengan yang lainnya saling menghargai dan menghormati pendapat keduanya berpegang kepada kebenaran, mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman kebenaran tersebut.[3]

c.       Peluang Keberhasilan Dakwah
Keberhasilan suatu dakwah dimungkinkan oleh berbagai hal, yaitu :
1.      Kemungkinan pertama karena pesan dakwah yang disampaikan oleh da’i memang relevan dengan kebutuhan masyarakat, yang merupakan satu keniscayaan yang tidak mungkin ditolak, sehingga mereka menerima pesan dakwah itu dengan antusias.
2.      Kemungkinan yang kedua karena faktor pesona da’i, yakni da’i tersebut memiliki daya tarik personal yang menyebabkan masyarakat mudah menerima pesan dakwahnya, meski kualaitas dakwahnya boleh jadi sederhana saja.
3.      Ketiga karena kondisi psikologi masyarakat yang sedang haus akan siraman rohani, dan mereka terlanjur memiliki persepsi positif kepada da’i, sehingga pesan dakwah yang sebenarnya kurang jelas ditafsirkan sendiri oleh masyarakat dengan penafsiran yang jelas.
4.      Kemungkinan yang keempat, adalah karena kemasan yang menarik. Masyarakat yang semula acuh tak acuh terhadap agama dan juga terhadap da’i setelah melihat paket dakwah yang diberi kemasan lain ( misalnya : kesenian, stimulasi, atau dalam program-program pengembangan masyarakat ) maka paket dakwah itu berhasil menjadi stimulasi yang menggelitik persepsi masyarakat, dan akhirnya mereka pun merespon secara positif.[4]

B.     Dakwah Persuasif
Salah satu pusat perhatian Psikologi Dakwah bagaimana dakwah itu bisa dilakukan secara persuasif. Efektifitas suatu kegiatan dakwah memang berhubungan dengan bagaiman mengkomunikasikan pesan dakwah itu kepada mad’u, persuasif atau tidak. Dakwah persuasif adalah proses mempengaruhi mad’u dengan pendekatan psikologis, sehingga mad’u mengikuti ajakan da’i tetapi merasa sedang melakukan sesuatu atas kehendak sendiri.[5]

a.       Unsur-unsur Pembentuk Persuasif
Kondisi Psikologis mad’u yang berbeda-beda menyebabkan tingkat pendekatan persuasif dalam berdakwah juga berbeda-beda. Namun untuk mencapai dakwah yang persuasif jelas ada unsur yang mendukungnya. Unsur-unsur yang meneyebabkan suatu dakwah itu peruaif atau tidak, dapat berasal dari :
1.      Pesona Da’i
Sosok da’i yang memiliki kepribadian sangat tinggi dan tidak pernah kering jika digali adalah pribadi Rasulullah sendiri. Kepribadian Rasulullah dapat dilihat pada pernyataan al-Quran, pengakuan Rasul sendiri dan kesaksian para sahabat yang mendampinginya.
Dalam al-Quran disebutkan bahwa Rasulullah adalah teladan utama :




Artinya :” sesunnguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari akhir, dan dia banyak menyebut  Allah ( Q.S. al-Ahzab : 21 )
Untuk membuat suatu dakwah itu persuasif, pertama-tama seorang da’i itu harus memiliki kriteria-kriteria yang dipandang positif oleh masyarakat. Kriteria-kriteria itu anatara lain :
·         Memiliki kualifikasi akademis tentang Islam
·         Memiliki konsistensi anatar amal dan ilmunya
·         Santun dan lapang dada
·         Bersifat pemberani
·         Tidak mengharap pemberian orang ( ‘iffah )
·         Qana’ah atau kaya hati
·         Kemampuan berkomunikasi
·         Memiliki ilmu bantu yang relevan
·         Memiliki rasa percaya diri dan rendah hati
·         Tidak kikir ilmu ( kitman al-‘ilm )
·         Anggun
·         Selera tinggi
·         Sabar
·         Memiliki nilai lebih.[6]

b.      Materi Dakwah yang Persuasif
Kekuatan kata-kata ( tulisan ) dalam kaitannya dengan dakwah persuasif, yakni dengan kata-kata yang dapat menjadi stimulasi yang merangsang respon psikologis mad’u, terletak pada jenis-jenis kekuatan sebagai berikut :
·         Karena keindahan bahasa seperti bait-bait syair atau puisi
·         Karena jelasnya informasi
·         Karena logikanya yang sangat kuat
·         Karena intonasi suara yang berwibawa
·         Karena memberikan harapan masa depan
·         Karena memberikan peringatan yang mencekam
·         Karena ungkapan yang penuh ibarat.
Secara psikologis, bahasa mempunyai peran yang angat besar dalam mengendalikan perilaku manusia. Bahasa ibarat remote control yang dapat menyetel manusia menjadi tertawa, sedih, marah, lunglai, semnagat dan sebagainya. Bahasa juga dapat digunakan untuk memasukan gagasan-gagasan baru ke dalam pikiran manusia.
Sebagai pesan, bahasa juga ada psikologinya, misalnya cara berkata seseorang, isyarat tertentu, struktur bahasa yang digunakan dan sebagainya, dapat memberikan maksud tertentu kepada lawan bicara. Jadi, dengan memperhatikan psikologi pesan, bahasa dapat digunakan oleh da’i untuk mengatur, menggerakkan dan mengendalikan prilaku masyarakat.
Al-Quran memberikan istilah-istilah pesan yang persuasif :
1.      Perkataan yang membekas pada jiwa ( Qaulan Baligha )
Surat an-Nisa ayat 63 mengintrodusir istilah qaulan baligha yang dapat diterjemahkan dengan perkataan yang membekas pada jiwa.



            Artinya :” mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. ( Q.S. an-Nisa : 63 )
            Ayat tersebut berkenaan dengan orang munafik yang dihadapan nabi berpura-pura baik, tapi di belakang meraka menyabot dakwah nabi. Karakteristik orang munafik, seperti diterangkan oleh hadis Nabi adalah berdusta jika berbicara, ingkar bila berjanji dan berkhianat bila diberi kepercayaan. Pada karakteristik demikian, perkataan yang lemah lembut tidak akan membekas kedalam jiwanya. Pesan dakwah yang tepat untuk orang munafik bukan yang indah dan lembut tetapi yang baligh.
2.      Perkataan yang lemah lembut ( Qaulan Layyina )



Artinya :” pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (Q.S. Thaha : 43 – 44 )
Berhadapan dengan penguasa yang tiran, al-Quran mengajarkan agar dakwah kepada mereka haruslah bersifat sejuk dan lemah lembut, tidak kasar, tidak lantang. Perkataan yang lantang kepada penguasa tiran dapat memancing respon yang lebih keras dalam waktu yang spontan, sehingga menghilangkan peluang untuk berdialog atau berkomunikasi antara kedua belah pihak, da’i dan penguasa sebagai mad’u.
Jadi, dakwah yang sejuk dan lembut ini secara persuasif cocok jika ditujukan kepada mad’u yang menduduki kekuasaan yang peka terhadap kritik. Dengan ungkapan yang lemah lembut maka teguran da’i diterima dengan senyum. Ia sadar bahwa dirinya sedang menjadi objek nasihat atau teguran, tetapi karena lembut dan halusnya, telinganya tidak sempat memerah, sebaliknya justru tergelitik hatinya sehingga ia dapat sneyum-senyum sambil introspeksi.


3.      Perkataan yang ringan ( Qaulan Maisura )
Dalam surat al-Isra ayat 28


            Artinya :” dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas ( Q.S. al-Isra’ : 28 )
            Lawan dari kata Qaulan maisura adalah qaulan ma’sura yaitu perkataan yang sulit. Sebagai bahasa komunikasi, qaulan maisura artinya perkataan yang mudah diterima, yang ringan, yang pantas, yang tidak berliku-liku dan tidak bersayap.
            Qaulan maisura atau perkataan yang ringan ini biasanya relevan bagi kaum awam yang hidupnya masih direpotkan oleh kebutuhan pokok : makan, minum serta tempat berteduh.
4.      Perkataan yang mulia ( Qaulan Karima )
Kalimat qaulan karima disebut dalam al-Quran dalam ayat yang mengajarkan etika pergaulan manusia kepada kedua orang tuanya yang sudah tua, seperti yang tersebut dalam surat al-Isra ayat 23 :




            Artinya :” dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak mu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaan mu, maka sekali-kali jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan kamu membantah mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. ( Q.S. al-Isra :  23 )
            Dalam perspektif dakwah, maka term qaulan karima diperlakukan jika dakwah itu ditujukan kepada kelompok orang yang sudah masuk kategori usia lanjut, atau dalam masyarakat kota barangkali adalah kelompok pensiunan atau purnawirawan. Seorang da’i dlam berhubungan dengan lapisan mad’u yang sudah masuk kategori usia lanjut, haruslah bersikap seperti terhadap orang tua sendiri, yakni hormat dan tidak berkata kasar kepadanya.

5.      Perkataan yang benar ( Qaulan Sadida )
Term qaulan sadida merupakan persyaratan umum suatu pesan dakwah agar dakwahnya persuasif. Ditujukan kepada siapapun, pesan dakwah haruslah dnegan perkataan yang benar. Term qaulan sadida disebut dua kali dalam al-Quran, yaitu dalam surat an-Nisa ayat 9  dan al-Ahzab ayat 70. Yang pertama berkaitan dengan hukum waris, dan yang kedualah yang lenih berhubungan dengan pesan dakwah.









            Artinya :” hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat disisi Allah. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. ( Q.S. al-Ahzab : 69 – 71 )
            Dalam ayat diatas, diingatkan agar kamu mukminin tidak melakukan apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap Nabinya, yaitu perbuatan memnyakiti Nabi Musa a.s. perintah untuk berkata benar didahului oleh perintah bertaqwa dan pada ayat 71 Allah menjanjikan bahwa berkata benar yang dilandasi oleh ketakwaan itu akan mengantar kepada perbaikan amal dan ampunan dari dosa-dosa, dan pada akhir ayat tersebut ditegakan bahwakomitmen kepada Allah dan Rasul-Nya sudah merupakan kemenangan pada tingkat awal.
            Jadi, modal moral seorang da’i yang paling utama adalah komitmennya kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada Al- Quran dan sunnah Rasul, dan kepada kebenaran universal. Komitmen itu sendiri sudah memberikan nilai plus pada langkah pertama, terlepas apakah dakwahnya direspon positif atau negatif oleh masyarakat.[7]
















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

            Dakwah merupakan bagian dari tugas setiap muslim, dalam beberapa ayat al-Quran bahwa dakwah menujujalan Allah SWT hukumnya wajib. Kewajiban ini didasari perintah melaksanakan dakwah disampaikan dengan bentuk fi’il amr, yaitu perintah secara langsung sebagaimana yang terdapat dalam surat an- Nahl ayat 125.
            Dakwah persuasif adalah proses mempengaruhi mad’u dengan pendekatan psikologis, sehingga mad’u mengikuti ajakan da’i tetapi merasa sedang melakukan sesuatu atas kehendak sendiri.
            Dalam al-Quran disebutkan beberapa materi dakwah persuasif, yaitu perkataan yang membekas di hati, perkataan yang sejuk dan lembut, perkataan yang ringan, perkataan yang mulia dan perkataan yang benar.
           














DAFTAR PUSTAKA

Arifin Zain, Dakwa Rasional, Banda Aceh : PeNa, 2009
M. Munir, Metode Dakwah, Jakarta :  Kencana , 2009
Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, Jakatra : Pustaka Firdaus, 2002



[1] Arifin Zain, Dakwa Rasional, Banda Aceh : PeNa, 2009. Hal : 1 - 5
[2] Arifin Zain, Dakwa Rasional, Banda Aceh : PeNa, 2009. Hal : 6 - 10
[3] M. Munir, Metode Dakwah, Jakarta :  Kencana , 2009. Hal : 6 - 19
[4] Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, Jakatra : Pustaka Firdaus, 2002. Hal : 161 - 162
[5] Ibid. Hal : 161
[6] Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, Jakatra : Pustaka Firdaus, 2002. Hal : 162 - 181
[7] Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, Jakatra : Pustaka Firdaus, 2002. Hal : 182 - 198

Tidak ada komentar:

Posting Komentar